Kios tua paman Hasyim berada ditikungan jalan masuk ke pasar Sufa di pinggir kota Zahra, Iran Utara. Pasar itu kecil, hanya ramai di pagi hari saja, karena itu pedagang di sana hanya menjual sayuran, kebutuhan pokok dan barang kelontong. Menjelang siang, banyak kios tutup, tinggal kios paman Hasyim dan beberapa orang saja. Selain menjual bumbu dapur kering, paman Hasyim juga menjual barang kelontong, lampu minyak tanah, penjepit roti dan banyak lagi.
"Aku akan menjual kios ini, maukah kau membelinya?" kata paman Hasyim kepada penjual di kios sebelah.
"Paman Hasyim, mengapa engkau menjual kios satu - satunya sebagai penopang hidupmu? lagipula paman mau pergi kemana, bukankah paman tidak mempunyai anak dan saudara?" kata pak Gulham, pemilik kios sebelah.
"Justru karna aku hidup sendiri, kios ini aku jual. Aku tidak punya siapa - siapa untuk menjalankan kios ini, aku sudah merasa seperti orang kaya di sini" kata paman Hasyim.
"Orang kaya? orang kaya bagaimana? bukankah kau tinggal di rumah yang sangat kecil, dengan penerangan lampu tempel minyak tanah, tidurmu di dipan (bangku panjang dan rendah) mungil terbuat dari kayu pakis? tak ada permadani di rumahmu, kau sebut dirimu kaya" kata pak Gulham tertawa.
"Pak Gulham, menurutku menurutku mempunyai banyak harta benda bukanlah suatu kekayaan. Merasa cukup dan mensyukuri apa yang dimiliki itulah kekayaan yang tiada bandingan" kata paman Hasyim menjelaskan.
"Kalau begitu, berapa kau jual kios tua itu?" tanya pak Gulham.
"Aku menjualnya 1000 real" jawab paman Hasyim.
"Apa, seribu real? apa aku tidak salah dengar? masa kios tua dan reot ini kau jual semahal itu, 200 real saja itu tidak laku, bagaimana kalau aku beli 80 real?" Kata pak Gulham.
"Pokoknya kalau tidak 1000 real aku tidak akan melepasnya, kios ini ku jual dengan isinya" kata paman Hasyim.
"Biarpun kau jual lengkap dengan isinya, tak akan ada yang mau beli" kata pak Gulham, mendengar harga jual yang tinggi dari paman Hasyim, banyak orang menggelengkan kepala, tidak ada yang menawar, kios itu terlalu mahal, bahkan tuan Jafar si saudagar kaya tidak tertarik membelinya. "Masa kios butut begitu kau jual 1000 real" katanya heran.
Hari terus berlalu, namun belum ada yang mau menawar apalagi membelinya, mendengar harganya saja orang sudah angkat tangan. Tetapi begitulah paman Hasyim, dia tidak putus asa menawarkan kepada siapa saja yang dijumpainya.
"Aku ingin sekali meninggalkan pekerjaan sebagai kuli pasar ini. Aku berminat membeli kiosmu paman Hasyim, tapi lihat dulu berapa jumlah tabunganku yang ku simpan di celengan tanah" kata Zul, seorang kuli muda pengangkut barag tiap hari di pasar itu.
"Aku menjualnya 1000 real, apa kau mau?" tanya paman Hasyim
"Ya, aku akan beli dengan harga itu" kata Zul memastikan.
"Atas dasar apa engkau mau membeli dengan harga itu? bukankah orang bilang, itu harga yang terlalu mahal?" kata paman Hasyim heran penuh selidik.
"Paman Hasyim, bagiku jumlah 1000 real tidak ada artinya dengan nilai kemurahan dengan hati murni, Seperti paman Hasyim pernah ajarkan kepada saya tentang kelurusan dan kejujuran" kata Zul.
"Aku tidak pernah mengajari tentang itu?" kata paman Hasyim.
"Paman memang tidak mengajari saya secara langsung dengan kata - kata. Saya melihat dan mengamati semua pedagang dan pembeli di pasar ini, kebanyakan mereka tidak jujur, ada yang mengurangi takaran, ada barang basi di bilang baru, menjual ubi dengan di siram air agar berat timbangannya dan macam - macam" kata Zul.
Maka di bayar lah kios tua beserta isinya seharga 1000 real oleh Zul dengan hasil menabung, setelah itu paman Hasyim pergi entah kemana tak ada yang tahu. Banyak orang membodohkan tindakan Zul ini, tapi setelah di bongkar sebuah peti kecil di kios itu, orang tertegun. Di peti itu terdapat uang tunai 2000 real dan sehelai kertas dengan tulisan dari paman Hasyim. Bunyinya "Uang ini kuserahkan kepada orang yang membeli kiosku dengan hati yang bersih."
Jumat, 23 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
